Rabu, 18 November 2015

Oleh-oleh Seminar How to Protect Your Child without being Overprotective

Dengan beredarnya sejumlah berita penipuan di sosial media berkedok acara di sebuah hotel, jujur - saya datang ke acara ini dengan membawa prasangka buruk. Kenapa ada seminar gratisan di Hilton? Jangan-jangan kita mau dipaksa beli sesuatu dan kartu kredit kita bakal di sandera di sana berjam-jam? Amannya apa simpan saja kartu kredit di rumah ya?

Tapi kalau nggak datang, sayang juga. Temanya sangat menggoda. How to Protect Your Child without Being Overprotected. Ribet bener emang judulnya.  Padahal mbok ya kasih judul: Bagaimana Melindungi Anakmu Tanpa Jadi Terlalu Melindungi? Atau itu sama ribetnya? Pokoknya ngerti kan kira-kira materinya mau ke arah mana?

Pembicaranya juga menarik. Psikolog di Klinik Terpadu Fakultas Psikologi UI, Anna Surti Ariani atau biasa dipanggil Nina saja. Ibu 2 anak ini, followernya di Twitter sampai hampir 18 ribu orang loh.

Penyelenggaranya TigaGenerasi yang memiliki tagline lifelong learning for family. Tempat berkumpulnya para psikolog muda yang berbaik hati memberikan layanan edukasi psikologi dengan fokus tumbuh kembang anak dan keluarga. Mereka sih katanya pengen bisa menjadi teman dan pusat informasi bagi keluarga Indonesia. Ternyata nama TigaGenerasi itu maksudnya ciri keluarga Indonesia yang terdiri dari Anak, Orang tua dan Kakek-Neneknya. Ah mulia ya niatnya. Masa sih mau nipu?

Kira-kira mereka mau jualan apa sih, ngerayu kita dengan acara di Ballroom Hotel Hilton segala? Sponsornya Bip-bip Jam Tracker buat anak dan T-Drive, sebuah aplikasi tracker buat mobil. Jadi kemungkinan penipuan saya dipaksa beli asuransi atau paket wisata akhir tahun rasanya kecil. Baiklah, prasangka buruk bisa terkikis sebelum acara dimulai.

Setelah dihibur oleh paduan angklung keren dari anak-anak TK Santa Angela, akhirnya materi dibuka oleh Mbak Nina sekitar pukul 10.30 pagi dengan pertanyaan:

“Jika kita bicara proteksi, apa yang pertama terlintas dalam pikiran para hadirin?”

“Asuransi!!!” teriak sebagian hadirin. O...o... *curiga mode on.

Tapi emang bener sih, coba googling kata proteksi, itu pasti keluar deretan panjang perusahaan asuransi. Padahal sebenarnya lingkup proteksi itu tidak hanya masalah dana, melainkan juga masalah kesehatan, kecelakaan, dan banyak lagi.

Fakta menyebutkan kalau sekitar 2 juta anak mengalami kecelakaan di RUMAH dan sekitar 6 ribu anak meninggal dunia. Penyebab kecelakaan di rumah itu bisa saja karena jatuh, terbakar (kena api, air panas, atau benda panas lainnya), tersedak/tercekik, keracunan atau tenggelam.

Kenapa hal itu bisa sampai terjadi? Bisa saja karena kelalaian orang tua, orang tua sibuk hal lain, perubahan rutinitas anak sehingga kewaspadaan dirinya menurun, dan lingkungan baru yang tidak familiar dengan anak.

Berikut fakta yang lain. Menurut data Polda Metro tahun 2014, terjadi 309 kecelakaan lalu lintas yang menimpa anak usia 0-10 tahun. Dimana 56% nya adalah kecelakaan sepeda motor. Dan yang lebih menyedihkan ternyata 11,11% penyebabnya adalah anak-anak.

Pastikan anak kita tidak mengendarai motor sebelum ia punya SIM. Itu adalah bagian dari proteksi. Mau badannya bongsor kek, mau bilang semua temannya sudah pada pake motor kek, mau bilang hemat ongkos kek, tetap saja TIDAK BOLEH anak bawa motor sebelum punya SIM. Itu adalah bentuk proteksi kita kepada buah hati dan kepada pengguna lain di jalan raya.

Menurut WHO, kecelakaan di jalan raya adalah penyebab kematian nomor 2 terbesar setelah infeksi pernapasan.

Proteksi pada anak

Proteksi juga harus diberikan untuk melindungi anak dari fisik, emosional, seksual dan penelantaran.

Apakah kita sudah melindungi anak dari kekerasan fisik, seperti mencubit, memukul, menyiram dengan air panas, menyetrika, dan yang serem-serem lainnya?

Apakah kita sudah melindungi anak dari kekerasan seksual, seperti menstimulasi secara seksual, meminta anak berfoto seksi-pornografi, atau menyentuh kelamin anak dengan kasar? Dalam banyak kasus, ternyata anak bisa tidak tahu apa itu yang disebut kekerasan seksual. Itu sebabnya lebih bijak jika orang tua menjelaskan batas-batasnya.

Apakah kita sudah melindungi mereka dari penelantaran, seperti tidak memberikan fasilitas yang dibutuhkan anak, menyerahkan pengasuhan HANYA pada pengasuh, bahkan kita tidak tahu siapa saja teman-teman si anak?

Apakah kita sudah melindungi mereka dari kekerasan emosional, seperti memberi kritik berlebihan, memarahi berlebihan, mengancam, mengejek, mempermalukan, menghancurkan barang kesayangan anak, atau mencelakai binatang kesayangan mereka dengan sengaja membuka pintu kandangnya?

Nah kayanya yang terakhir ini nih, banyak PR dari orang tua. Tanpa sadar kita melakukan kekerasan emosional pada anak.

“Coba itu makan dihabiskan ya. HABISKAN! Nanti kalau nggak Mama kasih kamu sama hantu.”

Abis itu terus ngadu-ngadu ke psikolog, “Ibu kenapa ya anak saya jadi penakut?”

Atau terkadang kita suka main gampang mengganti pakaian anak di tempat umum. Bisa saja itu di kolam renang atau mencoba baju di mal misalnya. Tanpa sadar kita mempermalukan anak dengan membuka bagian tubuhnya di muka umum. Jadi, jangan pakai malas, usahakan untuk membuka pakaian anak di tempat tertutup.

Pemerintah sebenarnya telah menetapkan sejumlah Undang-undang untuk melindungi anak. Ada UU nomor 35 tahun 2014 tentang perlindungan anak, Instruksi Presiden nomor 5 tahun 2014 tentang Gerakan Nasional  Anti Kejahatan Seksual terhadap anak – yang dipicu oleh kasus JIS kemarin itu, dan Undang-undang nomor 11 tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak.

Dengan serangkaian proteksi dari pemerintah seperti itu, lagi-lagi fakta di lapangan sangat mengejutkan. Menurut data Komnas Perlindungan Anak (KPAI), sepanjang Januari-Mei 2015 ini telah terjadi  500 kasus kekerasan anak. Dan memperlihatkan kecenderungan peningkatan dari tahun ke tahun. Dari data yang dikeluarkan KPAI Juni 2015, tahun 2011 terjadi 2 ribuan kasus, tahun 2012 jadi 3 ribuan kasus, tahun 2013 4 ribuan kasus, dan tahun 2014 jadi 5 ribuan kasus. Naiknya kok ya signifikan. Serem!

Menurut Riset LSM Plan International dan ICRW (International Center for Research on Woman) tahun 2015, 84% kekerasan terjadi di SEKOLAH.

Jadi gimana cara kita melindungi anak kita?

Apa perlu kita bebat seluruh tubuhnya tebal-tebal dan erat-erat biar selamat dunia akherat? 

Seberapa protektifkah kita perlu melindungi anak?

Apa tandanya kalau kita sudah terlalu overprotective?

Mbak Nina, memberikan batasan ini untuk menilai diri kita sendiri:
  • Apakah kita mengorbankan segalanya demi melindungi anak hingga melupakan diri sendiri?
  • Apakah kita mengatur kehidupan anak, seperti harus berteman dengan siapa, makan apa, pergi kemana dengan jadwal yang ketat?
  • Apakah kita selalu berusaha menyelesaikan masalah anak, walau anaknya sebenarnya cuek saja?
Kalau jawabannya banyakan iya, itu artinya Anda adalah orang tua yang overprotective.

Apa efeknya buat anak?
  •           Anak menjadi terlalu tergantung pada orang tua
  •           Anak tidak mampu membuat keputusan sendiri
  •           Anak takut salah
  •           Kepercayaan dirinya rendah
  •           Kurang kreatif dalam menyelesaikan masalah
  •           Anak justru lebih membangkang
  •           Anak lebih rentan depresi
Orang tua kadang tidak sadar, dengan menjadi overprotective mereka merusak masa depan anak. 
Apa efeknya buat orang tua? Orang tua menjadi selalu cemas dan terlalu sibuk mengurus si anak. Akhirnya ya tidak bahagia juga.

Pola asuh

Bicara tentang pola asuh anak, bagaikan bicara tentang pagar di sekitar rumah. Anak-anak itu selalu berusaha menabrakkan dirinya ke pagar.

Ada tipe orang tua otoriter yang memilih memasang  pagar beton.  Setiap nabrak, anaknya bonyok-bonyok.
“Mama bilang kamu harus mandi sekarang. Mandi! MaNdI! MANDI!!!!” – Bletak!

Ada tipe orang tua permisif yang bikin pagar karet yang elastis. Bisa belok-belok mengikuti maunya anak. Tiap jam mengingatkan anak untuk mandi karena anaknya tidak mau menurut. Anak jadi belajar bahwa segala maunya harus diikuti. Ada kasus anak jadi mogok sekolah. Setelah ditelusuri, ternyata masalahnya karena si anak kesal  ketika semua orang disekolahnya tidak mau menuruti maunya dia – seperti perlakuan yang biasa diterimanya di rumah.

Ada juga tipe orang tua yang cuek dan tidak merasa perlu pakai pagar. Bebas sebebas bebasnya. Nanti kalau lapar juga pulang sendiri.

Nah yang paling asyik tipe orang tua moderat yang pasang pagar beton tapi pake busa yang tebal banget. Jadi anaknya nggak bonyok-bonyok amat kalau nabrak. Aturan tetap harus ada, tapi pasanglah busa tebal berbentuk kesepakatan yang dinegosiasikan.

Berikut sejumlah tip dari Mbak Nina yang bisa dipraktekkan:
  •           Sesuaikan proteksi dengan usia dan kemampuan anak. Tingkatkan kemampuan anak sedikit demi sedikit.
  •           Jadikanlah rumah kita rumah ramah anak. Kalau masih tinggal di mertua, diskusikanlah jalan keluarnya.
  •          Kelola stress kita. Slow down. Relax. Enjoy life. Take it easy. Go outside. Hubungi psikolog jika perlu. Orang tua itu harus Ok dulu, kalau mau anaknya OK juga.
  •         Banyak TERTAWA bersama anak. Bukan nge-tawain anak loh ya. Catat, beda itu! Ingat nggak kapan terakhir kali tertawa sama anak? Atau ingatan terakhir adalah saat memarahi anak?
  •        
     
    Kita dapat menggunakan trik disiplin dengan memberi tolerasi  menggunakan Teknik Jam Dinding (harus mandi pada jam tertentu, dengan diingatkan sebelumnya); Teknik Hitungan (dalam 10 hitungan mainan harus rapi); Teknik Pilihan (“Mau makan brokoli dulu atau minum susu dulu?”); Teknik Abaikan (jika anak jejeritan bukan karena sakit atau sebab tertentu, teknik ini bisa juga dipakai untuk terapi anak yang suka ngomong jorok), dan Teknik Jika-Maka (Jika kamu tidur siang, kamu boleh nonton film nanti sore).
  •          Jangan lupa mengapresiasi pencapaian anak.

Selanjutnya ada praktek interaktif di mana setiap peserta diberi sebuah gambar untuk mendiskusikan gambar yang terdapat disana. Apakah gambar itu berbahaya untuk anak atau tidak? Dan bagaimana sikap kita menghadapi kasus tersebut? Sayang saya tidak utuh mengikuti sesi ini jadi tidak bisa cerita banyak.


Parent sharing

Dalam acara yang dipandu MC enakeun, Teddy Andika ini, ada 2 tamu spesial  yang berbagi pengalaman mereka memproteksi anak. Ada Eddi Brokoli dan Ny. Indra Birowo alias Noella ‘Ui’ Birowo yang juga pendiri TigaGenerasi.

Apakah kalian tipe orang tua overprotective?

“Saya sih enggak. Bisa di kira-kira kalau anak posisinya aman atau berbahaya. Biar saja dia belajar jatuh. Yang parno itu ibunya. Dubrak, anak jatuh! Ibunya histeris. Anaknya mah nggak apa-apa, tapi nangis karena kaget dengar suara teriakan ibunya,” cerita Eddi Brokoli yang sudah tidak terlalu brokoli lagi.

Coba ngacung, siapa yang tipe kaya gitu?

“Saya sih parno-an,” aku Ui. “Ketika anak belajar merangkak, seluruh rumah diberi pengaman matras agar anak tidak terbentur. Baru berani dilepas ketika anak sudah benar-benar bisa jalan. Saya parno-an, tapi suami saya lebih parno-an lagi.”
Mari kita bayangkan rumah yang diisi oleh sepasang orang tua parno dan lebih parno lagi. Paranoid kuadrat.

Bagaimana kalian memberikan Punishment dan Reward untuk anak?

“Mungkin bukan punishment, tapi lebih tepat mamatahan kata orang sunda – nasehatin,” kata Eddi Brokoli.

Untuk reward, Eddi sempat cerita pengalamannya menawarkan hadiah smartphone untuk anaknya jika berhasil masuk ke SMP impian. “Niatnya mau saya kasih I-phone, tapi anaknya pengen android biasa. Ya syukur,” ceritanya. 

Parent sharing
Buat Eddi, anak boleh saja pegang gadget, selama dibatasi waktunya. Misalnya boleh main PS saat weekend atau tidak boleh terus menerus dalam waktu lebih dari 2 jam. Menurutnya, jangan juga anti gadget, “Kasihan nanti minder sama teman-temannya. Selama masih mau diawasi itu boleh. Tapi kalau ingin privacy lebih, nanti saja kalau sudah keluar dari rumah orang tua,” lanjutnya.

Sementara Ui, lebih kaku soal penggunaan gadget untuk anak dibawah usia 6 tahun. “Nanti ada aja deh aneh-aneh muncul. Entah matanya kedip-kedip lah, kakinya goyang-goyang lah, kalau mereka terlalu lama main gadget.” Karena itu Ui hanya membatasi penggunaan gadget 25 menit sehari.

Selain sharing dengan orang tua sempat juga ada bermain peran untuk kasus yang biasa terjadi pada keluarga. Seperti kasus anak yang recok ingin bantu mamanya masak dan orang tua yang memergoki anak kelas 4 SD-nya membuka gambar porno.

Kita harus gimana dong?

Untuk kasus anak yang recok kita bisa mengalihkan perhatian si kecil. Beri mereka aktivitas lain. Para orang tua harus sediakan waktu untuk kreatif mencari kegiatan-kegiatan seru buat anaknya. Mbak Nina sempat cerita bagaiman ia mengajarkan pengasuh anaknya sejumlah kegiatan yang bisa dilakukan dengan si anak. Tidak harus beli mainan edukasi mahal, barang bekas pun bisa dipakai. Banyak kok beredar di sosmed mengenai alternatif permainan buat anak-anak.

Sedangkan untuk kasus gambar porno, sikap pertama adalah harus tenang dan jangan memperlihatkan kepanikan di depan anak.

“Tadi lihat gambar apa?”

“Tadi kamu klik apa?”

“Bagus nggak gambar itu?”

Papa Eddi bingung ngadepin anaknya
Coba sini papa lihat dulu. Loh!!! Salah-salah, itu sih komentar pemeran si Papa.

“Bagaimana perasaan kamu lihat gambar itu?”

Tuntun anak untuk bisa menyimpulkan bahwa tidak baik melihat gambar seperti itu dengan menggali lebih banyak informasi. Usahakan anak bisa menarik kesimpulan sendiri. Anak usia SD biasanya sudah bisa diajak diskusi. Nasehat bisa diberikan dalam bentuk pertanyaan.

“Jadi menurut kamu bagaimana?”

“Efeknya bagaimana?”

Demikian juga jika menghadapi kasus harus menjelaskan pada anak menghadapi mimpi basah. Jangan malah bengong dan nggak tau mau ngomong apa. Malah nanya lagi, “Jadi kamu mimpi basahnya sama siapa?”  Halah. Kacau.

Untuk mimpi basah bisa mulai dijelaskan bahwa itu adalah hal yang wajar. Ajarkan anak untuk membersihkan diri. Terangkan pada anak apa yang ingin mereka ketahui. Daripada mereka nanya ke orang lain kan?

Nah setelah puas di kasih ilmu sekitar hampir 2 jam dan dijamu kue-kue enak dari Hilton Hotel, ikhlas deh rasanya kalau kita nyimak penjelasan dari sponsor acara Bib-bip Watch dan Telkomsel T-Drive. Ajaib juga sekarang ada alat model begini.

 Jadi ya, Bib-bip watch itu adalah jam tangan anak yang bisa melacak keberadaan mereka. Cukup dengan apps di HP, kita tahu dimana anak kita berada. Bukan cuma itu, dengan jam ini anak kita bisa telpon-telponnan dengan kita. Jadi anak nggak perlu dibekali HP segala. Cukup jam tangan saja. Canggihnya yang lain adalah kita bisa atur safe zone anak. Misalnya safe zone adalah lingkungan sekolah. Akan ada notifikasi jika anak sudah masuk atau keluar safe zone. Bahkan jika anak melepaskan Bip-bip watch-nya juga bisa ketahuan.

Apa ada yang kepikiran beli ini untuk pasangan? Ssstttttt percaya nggak, ternyata kata Irwan Cahaya pemilik Bip-bip Watch sudah banyak permintaan loh buat dewasa.

Kalau Bip-bip buat anak, nah T-Drive buat mobil kita tercinta. Kita jadi tahu tu kemana mobil kita dibawa supir atau anak remaja kita. Canggihnya, T Drive ini bukan cuma untuk tahu posisi mobil, tapi juga bisa untuk cek kesehatan mesin, pemakaian oli, pemakaian bensin, catatan proses pengereman, supir kita nih pakai mobil dengan kasar atau halus. Semua terekam dengan rapi dan bisa cukup kita pantau dengan apps di HP.

Keprok-keprok tangan deh buat aplikasi inovatif dari Bip-bip. Semoga inovasinya bisa bermanfaat bagi banyak orang yang membutuhkan.

Sebelum pulang ada 3 orang yang beruntung mendapat Bip-bip watch dan 1 orang mendapat T-Drive karena menjawab pertanyaan dan upload foto di Instagram. Wow! Saya mah cukup happy dapat goody bag Power Bank  4800 mAh dan tas lipat dari T-Drive.

Buat para panitia, terima kasih ya acaranya. It’s awesome!  #Konsumenpuas.

Alhamdulillah ke poto juga.

(2300 kata sajah)

8 komentar:

  1. Wah saya pgn bgt ikutan, cmn klo ikutan ga ada yg jmpt anak di skolah, huhu...
    Makasih ya udah sharing isi acaranya :)
    Pgn ih jamnya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Minimal dapat icip-icip sedikit oleh-olehnya ya Nathalia.

      Hapus
  2. mba shanty luar biasa.. semangat berbaginya juga tinggi.. nuhun tulisannya ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih Shona. Kemarin nggak sempat ikutan ya?

      Hapus
  3. Mba Shanty, makasi banyak ya ulasannya, aku & teman2 dari TigaGenerasi senang sekali workshopnya bermanfaat dan bahkan dituangkan dalam tulisan jd bs bermanfaat buat org banyak.

    . Putu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama Mbak Putu. TigaGenerasi sering-sering bikin acara seru murah meriah di Bandung ya. Biar emak-emak di Bandung ini meningkat tingkat kebahagiaannya. Ha...ha....

      Hapus
  4. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  5. MBa Shanty, saya dapat link artikel blog mba dari atasan saya, dia bilang artikelnya cukup panjang dan bacanya pulang kantor saja hahahaha, saya bersyukur bisa dapat ilmu dari tulisan mba, meski ga pernah ikutan seminar seperti ini tapi baca blog mba serasa ikutin seminarnya. Terimakasih Mba Shanty :)

    Salam kenal.

    BalasHapus