Kamis, 24 Desember 2015

Oleh-oleh dari Launching Buku Bunda Produktif

Launching buku ke-4 Institut Ibu Profesional berjudul Bunda Produktif, Catatan Ikhtiar Menjemput Rizki (J&J Publishing, 2015) di Bapusibda Bandung, diselenggarakan bertepatan dengan Hari Ibu 22 Desember 2015 yang juga ulang tahun ke-4 Institut Ibu Profesional (IIP). Sebuah ontologi dari 25 ibu-ibu yang tersebar di berbagai kota, berbagi pengalaman di tatar produktif bagi orang lain diluar keluarga. Mereka berbagi cerita bagaimana menemukan passion-nya dan menggunakan passion itu untuk membantu mencari nafkah keluarga, menyalurkan hobi dan membantu orang lain.

Sebagai tradisi, IIP selalu meluncurkan buku dalam setiap perayaan ulang tahunnya. Pada ulang tahun pertama, keluar buku Hei, Ini Aku: Ibu Profesional (Leutikaprio, 2012) berisi kumpulan 31 tulisan pengalaman para ibu-ibu yang bergabung dengan IIP. Pada ulang tahun kedua diluncurkan buku Bunda Sayang, 12 Ilmu Dasar Mendidik Anak (Gazza Media, 2013) yang selain berisi pengalaman para ibu, juga dilengkapi dengan kumpulan materi kuliah Bunda Sayang yang disampaikan Bu Septi Peni Wulandani. Dan pada ulang tahun ke-3 terbit buku Bunda Cekatan, 12 Ilmu Dasar Manajemen Rumah Tangga (Gazzamedia, 2014) dengan format yang sama seperti buku kedua.

Ternyata dalam seri buku ketiga Bunda Produktif, formatnya menjadi agak berbeda dengan 2 buku sebelum. Bahkan bisa dibilang mirip dengan buku pertama. Kompetisi menulis yang diumumkan di blog Ibu profesional pada Oktober 2014 - Januari 2015 berhasil menjaring 32 artikel pilihan. Dimana ada 5 artikel dari 4 kontributor asal IIP Bandung. 

Dalam acara launching buku ini, kami berkesempatan mendengar langsung cerita dari 3 kontributor dari IIP Bandung, yaitu Isti Khairani dengan Bumi Inspirasi Learning Center, Shinta Rini dengan Toko Souvenir Korea Saranghae, dan Ade Seruni dengan bisnis pulsa & tokennya.

Dipandu oleh MC keren Thasya Sugito, kita diajak untuk ATM – Amati, Tiru, Modifikasi sepak terjang ketiga kontributor ini.


Isti Khairani

Bermula dari kegalauan saat mendengar ceramah tentang “Dosa Riba” yang di dengar saat menjalankan rangkaian ibadah haji tahun 2012, lulusan Teknik Industri Institut Teknologi Bandung ini memutuskan untuk resign dari bank BUMN tempatnya bekerja selama 9 tahun. Setelah sebelumnya lebih dari 12 jam waktu habis di kantor dan hanya menyisakan 4-5 jam waktu bersama keluarga, kini Isti memilih untuk menghabiskan waktu 12 jamnya bersama anak-anak dan 4-5 jam waktu produktif.

Isti mulai mengembangkan Bumi Inspirasi Learning Center dengan tujuan menjadikan rumah sebagai tempat berbagi ilmu kecerdasan finansial yang memang passion-nya sejak awal, menjaga kebersihan lingkungan dengan menggagas Bank Sampah dan Taman pendidikan Al Quran.

Bank Sampah Bumi Inspirasi yang baru dinobatkan sebagai Bank Sampah terbaik sebandung raya ini memang unik. Siapa bilang buat usaha, kita yang harus jungkir balik sendiri banting tulang untuk membesarkan usaha. Di Bank Sampah Bumi Inspirasi, Isti mampu menggerakkan para anak muda dari kalangan pra sejahtera di sekitar lingkungannya untuk diajak mengelola Bank Sampah. Dengan semangat untuk menjadi lebih baik, kini anak-anak muda ini telah mampu menjadi pengelola Bank Sampah dan mengajarkannya ke berbagai tempat.

Ibu dua putri usia 5 dan 1,5 tahun ini mengajak untuk membangun impian dengan DNA – Dream n Action. Dimulai dari menetapkan impian (diri sendiri, keluarga, masyarakat, ibadah). Kemudian menyusun action dan menetapkan ukuran pencapaian. Terakhir adalah melakukan evaluasi. Insya Allah impian terwujud. Mari kita intip kunci sukses Mompreuneur ala Isti.

1. Menetapkan impian
  • Miliki impian besar. Dream – Pray – Share – Action!
  • Selaraskan impian tersebut dengan pasangan dan orang tua.
  • Positifkan kata-kata dan yakinkan diri
  • Mulailah dari passion yang kuat
  • Niatkan untuk ibadah dan untuk kebermanfaatan. Karena jaminannya adalah pahala dunia dan akhirat.

2. Menyusun Action
  • Pantaskan diri dihadapan Tuhan dengan berdoa, melipatgandakan ibadah dan memperbaiki diri
  • Pastikan bahwa nasabah prioritas adalah anak dan suami. Bentuklah home team yang mendukung.
  • Mulai bisnis dengan mempelajari ilmunya. Bangunlah relationship dengan orang-orang yang mendukung. Semangat untuk belajar dan bersilahturahmi.
  • Bentuk personal branding. Jangan ragu dan malu untuk memperkenalkan diri pada orang lain.
  • Bangunlah team yang kuat dengan mengembangkan sikap open mind, mau belajar, diskusi dan kerjasama.
  • Jangan memulai bisnis dari utang. Carilah investor untuk bekerja sama dengan memberikan track record keuangan yang baik. Pisahkan keuangan pribadi dan keluarga. Biasakan untuk mencatat pengeluaran keluarga. Cukup sekitar 3 bulan untuk melihat polanya. Setelah itu kita cukup mengatur budget sesuai posnya.
  • Ciptakan home office yang nyaman
Isti memiliki ruang kerja di rumah. Jam paling produktifnya adalah pukul 8.00-12.00 saat anak-anak sekolah. Ketika anak sedang di rumah, sebelum mulai berangkat ngantor dengan membawa tas kerja lengkap, minta ijin dulu ke mereka. Pastikan urusan anak dan rumah sudah beres dulu. Ilmu soal ini, silakan buka lagi buku Bunda Sayang dan Bunda Cekatan ya.
  • Susun jadwal dan catat.
Ini juga salah satu obat buat orang yang banyak keinginan tapi bingung melaksanakannya. Dengan dicatat dan menyusun prioritas, langkah kerja kita jadi lebih terarah. Jangan dibiarkan mengalir begitu saja.
Isti mencontohkan setelah satu kegiatan terlaksana, bisa dijeda dengan bermain dulu dengan anak untuk merecharge energi sebelum melanjutkan ke kegiatan selanjutnya.

3. Menetapkan ukuran pencapaian
Tentukan batas waktunya dan target yang ingin dicapai

4. Melakukan Evaluasi
  • Munculkan kepedulian bahwa bisnis kita merupakan refleksi jiwa kita pada lingkungan, sosial dan masyarakat.
  • Teruslah belajar dan berbagi ilmu
  • Berdoa, berusaha dan tawakal
  • Senantiasa bersyukur.

Siap mewujudkan mimpi ibu-ibu? Tapi sabar dulu, jangan sekarang. Mari kita dengar dulu paparan dari 2 pembicara lainnya.

Shinta Rini

Pengalaman 5,5 tahun mendampingi suami S3 di Busan Korea Selatan dan harus hidup dengan beasiswa terbatas membuat Shinta memutar otak untuk menambah penghasilan keluarga.
Karena tidak memiliki waktu melanjutkan usaha catering makanan Indonesia bagi para mahasiswa setelah melahirkan putra ke-2, Shinta memilih membantu teman menjadi guide bagi teman-teman yang berwisata ke Korea. Dari situ mulailah ia berkenalan dengan pernak pernik cendera mata dan kemudian membuka bisnis online Toko Souvenir Korea Saranghae. 

Shinta bersama anak dan bunda.
Kok sempat sih berbisnis sambil urus anak yang masih kecil?

"Pastikan anak beres dulu dan makanan siap sebelum memulai sibuk berbisnis", kata ibu 2 anak usia 8 dan 2 tahun ini. Perbedaan waktu sekitar 2 jam antara Indonesia dan Korea, seringkali membuatnya harus begadang melayani pembeli. Pengalaman jatuh sakit karena kurang istirahat membuat Shinta jadi belajar lagi mengenai manajemen waktu dengan disiplin menutup toko dan tidak melayani pembeli sepanjang waktu.

Liputan pada Muslim Traveller di Net TV, lumayan mengukuhkan Shinta sebagai celebrity di IIP Bandung sekaligus mempopulerkan Toko Online Shop Saranghae. Dalam tayangan itu kita bisa lihat bagaimana Shinta berbelanja souvenir sambil menggendong putranya di punggung dan mendorong stroller berisi barang dagangan. Perjuangan Magister Psikologi Unpad ini selama berbisnis di Korea bisa dibaca lengkap dalam buku Bunda Produktif.

Shinta juga adalah adalah kontributor di buku Bunda Sayang sekaligus Editor dalam buku Bunda Produktif. Ia telah menulis 8 ontologi dan memiliki kebiasaan membaca 1 buku per minggu. Kebiasaan keren yang perlu ditiru!

Ade Seruni

Mungkin kita akan menilai apa yang keren dari bisnis pulsa dan token dari seorang ibu rumah tangga. Tapi pada kesempatan ini, mantan asisten apoteker Hermina ini berbagi cerita mengenai pengalamannya menemukan kunci keberhasilan pembuka rejeki. Apa itu?

Pertama adalah meluaskan niat. Tujuan bisnis untuk sekedar mencari keuntungan pribadi adalah bentuk niat yang sempit. Ketika niat itu diluaskan dengan tujuan untuk bisa membantu orang lain, ternyata Insya Allah rejeki tidak akan kemana. Bermula dari niat membantu saudara, usaha bisnis pulsa Seruni berkibar sedikit demi sedikit lama lama jadi bukit. Padahal saat itu banyak usaha sejenis yang malah gulung tikar karena untungnya yang sangat sedikit.

Keinginan tidak akan terwujud jika hanya sekedar keinginan. Jadikan keinginan menjadi sebuah kebutuhan. 

“Saya berniat untuk sedekah setiap Jumat.” Keinginan itu Insya Allah akan terwujud jika kita butuh untuk sedekah setiap Jumat.

Kedua adalah ikhtiar iman maksimal. Jadi janganlah memberhalakan ikhtiar maksimal di bumi saja. Tapi pastikan juga ada kata iman yang mencerminkan ikhtiar langit. Tanpa itu kita akan lelah dalam berbisnis.
Yakinlah Allah akan selalu mencukupkan hidup kita. Kalau selalu merasa kurang, pasti ada yang salah. Coba di cek lagi niatnya. Apakah masih memiliki niat yang sempit atau luas?

Ada satu lagi tips menarik untuk mengatasi stress dari Seruni. Kalau kita sudah mulai marah-marah karena hal-hal sepele, itu artinya kita perlu pembersihan emosi. Coba untuk minta pengertian pasangan untuk membantu keluar sebentar dari rutinitas. Bisa dengan tidak memasak dan mengurus rumah dalam sehari itu, menulis diary atau mungkin mewarnai buku coloring book for adult yang sekarang lagi nge-trend.

Setelah terpesona mendengar paparan 3 ibu keren diatas, lantas muncul pertanyaan. Apa yang sama dari mereka bertiga?

Mereka produktif dan mengerjakan hal bermanfaat bagi banyak orang. So what? Wanita sejuta umat juga melakukan hal yang sama, bahkan mungkin lebih hebat. Tapi bedanya adalah mereka menuliskan pengalaman mereka itu dalam sebuah buku. Mereka merekam sejarah yang bisa bermanfaat dan menginspirasi orang lain untuk bisa lebih baik. Tanpa ditulis, pengalaman mereka mungkin hanya akan diketahui oleh segelintir orang dan menguap dalam waktu yang tak lama.

Ajang Kopdar

Selain sebagai ajang kopdar para anggota IIP aktif yang tergabung dalam 5 grup WhatsApp, pada hari ini juga dilantik kepengurusan baru IIP Bandung 2016. Sayang sekali pelantikan terpaksa diwakilkan karena Ketua baru terpilih Nisa Nurarifah (Nca) berhalangan hadir karena masih dalam masa penyembuhan.

Karena sekarang trendnya bukan lagi Learning by doing, tapi Learning by teaching, pada kesempatan ini juga disampaikan mengenai pembentukan Rumah Belajar (RB) baru di IIP Bandung sebagai wadah untuk para ibu belajar bersama. Ada Rumah Belajar Menulis bersama Shanty Dewi Arifin (iya, saya maksudnya), Rumah Belajar Memasak, dan Rumah Belajar Menjahit bersama Ai Santiani.

Semoga Institut Ibu Profesional di Bandung khususnya, bisa selalu menjadi wadah bagi para ibu untuk mengembangkan diri menjadi Bunda yang di Sayang keluarga, Bunda yang Cekatan dalam rumah tangga, Bunda Produktif bagi masyarakat di sekitarnya dan Insya Allah Bunda Sholehah. 


Selamat Ulang Tahun ke-4 Institut Ibu Profesional. 
Be Profesional, Rejeki will follow.

Grup IIP Bandung 2


5 dari 9 Koordinator IIP Bandung 2. 




Minggu, 13 Desember 2015

Oleh-oleh dari Diskusi Parenting Mengenal Gaya Belajar Anak

“Anak saya trauma matematika,” adalah kalimat yang jamak kita dengar dari para orang tua. Dalam diskusi selama 2 jam bersama Teh Dita Wulandari, pernyataan itu mendapatkan alternatif solusinya. Benar-benar sebuah sharing bergizi dari ibu yang rela meninggalkan statusnya menjadi dosen tetap sebuah PTS selama 13 tahun demi meng-homeschooling-kan 3 putra putrinya.

Ada 2 hal yang perlu diperhatikan mengenai cara kita belajar. Pertama, bagaimana kita menyerap informasi dengan mudah (modalitas) dan kedua, bagaimana cara kita mengatur dan mengolah informasi tersebut (dominasi otak). 

Gaya belajar seseorang adalah kombinasi dari bagaimana ia menyerap, dan kemudian mengatur serta mengolah informasi.

Dari ‘buku wajib baca’ Quantum Learning - Membiasakan belajar nyaman dan menyenangkan, Bobbi DePorter dan Mike Hernacki (Kaifa, 1999), kita mengenal 3 cara dalam menyerap informasi (Modalitas belajar):

1. Visual, dengan ciri-ciri:
  •           rapi dan teratur
  •           berbicara dengan cepat
  •           perencana dan pengatur jangka panjang yang baik
  •           teliti terhadap detail
  •           mementingkan penampilan, baik dalam hal pakaian maupun presentasi
  •           pengeja yang baik dan dapat melihat kata-kata yang sebenarnya dalam pikiran mereka
  •           mengingat apa yang dilihat, daripada yang di dengar
  •           mengingat dengan asosiasi visual
  •           biasa tidak terganggu oleh keributan
  •           mempunyai masalah untuk mengingat instruksi verbal kecuali jika ditulis, dan sering kali minta bantuan orang untuk mengulanginya
  •           pembaca cepat dan tekun
  •           lebih suka membaca daripada dibacakan
  •           membutuhkan pandangan dan tujuan yang menyeluruh dan bersifat waspada sebelum secara mental merasa pasti tentang suatu masalah atau proyek
  •           mencoret-coret tanpa arti selama berbicara di telepon dan dalam rapat
  •           lupa menyampaikan pesan verbal kepada orang lain
  •           sering menjawab pertanyaan dengan jawaban singkat ya atau tidak
  •           lebih suka melakukan demonstrasi daripada berpidato
  •           lebih suka seni daripada musik
  •           sering kali mengetahui apa yang harus dikatakan, tetapi tidak pandai memilih kata-kata
  •           kadang-kadang kehilangan konsentrasi ketika mereka ingin memperhatikan


2. Auditorial, dengan ciri-ciri:
  •           berbicara kepada diri sendiri saat bekerja
  •           mudah terganggu oleh keributan
  •           menggerakkan bibir mereka dan mengucapkan tulisan di buku ketika membaca
  •           senang membaca dengan keras dan mendengarkan
  •           dapat mengulangi kembali dan menirukan nada, birama dan warna suara
  •           merasa kesulitan untuk menulis, tetapi hebat dalam bercerita
  •           berbicara dalam irama yang terpola
  •           biasanya pembicara yang fasih
  •           lebih suka musik daripada seni
  •           belajar dengan mendengarkan dan mengingat apa yang didiskusikan daripada yang dilihat
  •           suka berbicara, suka berdiskusi, dan menjelaskan sesuatu panjang lebar
  •           mempunyai masalah dengan pekerjaan-pekerjaan yang melibatkan visualisasi, seperti memotong bagian-bagian hingga sesuai satu sama lain
  •           lebih pandai mengeja dengan keras daripada menuliskannya
  •           lebih suka gurauan lisan daripada membaca komik


3. Kinestetik, dengan ciri:
  •           berbicara dengan perlahan
  •           menanggapi perhatian fisik
  •           menyentuh orang untuk mendapatkan perhatian mereka
  •           berdiri dekat ketika berbicara dengan orang
  •           selalu berorientasi pada fisik dan banyak bergerak
  •           mempunyai perkembangan awal otot-otot yang besar
  •           belajar melalui memanipulasi dan praktik
  •           menghafal dengan cara berjalan dan melihat
  •           menggunakan jari sebagai penunjuk ketika membaca
  •           banyak menggunakan isyarat tubuh
  •           tidak dapat duduk diam untuk waktu yang lama
  • tidak dapat mengingat geografi, kecuali jika mereka memang telah pernah berada di tempat itu
  •           menggunakan kata-kata yang mengandung aksi
  •           menyukai buku-buku yang berorientasi pada plot – mereka mencerminkan aksi dengan gerakan tubuh saat membaca
  •           kemungkinan tulisannya jelek
  •           ingin melakukan segala sesuatu
  •           menyukai permainan yang menyibukkan

Tidak setiap orang harus masuk ke dalam salah satu modalitas di atas. Setiap orang pada dasarnya memiliki 3 modalitas ini, namun dominan pada salah satunya.

Selanjutnya kita memiliki 2 kemungkinan bagaimana mengatur informasi tersebut (Dominasi otak):
  •           persepsi konkret dan abstrak
  •           kemampuan pengaturan secara sekuensial/linear (dominasi otak kiri) dan acak/nonlinear (dominasi otak kanan)

Paduan keduanya memungkinkan 4 kombinasi gaya berpikir dan kiat pembelajaran yang sesuai:
  1.     Sekuensial Konkret: atur rencana kegiatan secara realistik, mengetahui semua detail yang diperlukan, pecah tugas menjadi beberapa tahap, atur lingkungan yang sesuai dan menghilangkan pengganggu konsentrasi.
  2. Sekuensial Abstrak: berlatih mengubah masalah menjadi situasi teoritis, memperbanyak rujukan, mengupayakan keteraturan, menganalisis orang-orang yang berhubungan.
  3. Acak Konkret: ciptakan ide-ide alternatif dengan memelihara sikap selalu bertanya, siapkan diri untuk memecahkan masalah, periksa waktu, terima kebutuhan untuk berubah, carilah dukungan dari orang lain.
  4. Acak Abstrak: menggunakan kemampuan alamiah untuk bekerja dengan orang lain, emosi mempengaruhi konsentrasi, memanfaatkan asosiasi visual dan verbal, melihat gambaran besar, mencermati penggunaan waktu, menggunakan isyarat visual.

Cara menyerap informasi Visual – Auditory – Kinestetik bisa berubah seiring usia. Dibawah usia 7 tahun yang dominan bisa saja kinestetik dan auditory, namun selanjutnya yang berkembang adalah visualnya. Untuk itu penting untuk selalu menyampaikan informasi secara seimbang dengan menggunakan visual (gambar atau tulisan), Auditory (ceramah dan lisan) dan Kinestetik (praktek, presentasi). Sehingga anak menjadi terlatih untuk belajar dalam berbagai kondisi.

Coba ingat-ingat kapan kita merasa belajar paling efektif? Ada anak yang prestasi belajarnya bagus saat sekolah menengah karena saat itu banyak menyerap informasi dalam bentuk tertulis. Ketika kuliah yang lebih banyak auditory dalam kelas yang besar, mereka kebingungan dan akibatnya prestasinya menurun. Atau bisa juga sebaliknya.

Sebagai pengajar, Teh Dita terbiasa untuk menggunakan 3 modalitas dasar dalam belajar. Baik saat menghadapi anak-anak maupun mahasiswanya. Dimulai dengan ceramah, kemudian bagan dan slide, dan yang terakhir sambil bergerak dan menyentuh.

Anak-anak itu sebenarnya bukan tidak suka berhitung, tapi mereka takut matematika. Pelabelan pelajaran seperti Matematika, Fisika, Science sering bikin mimpi buruk pada anak. Ketika disebut kata pecahan, anak-anak bisa langsung mual dengarnya. Anak bisa memahami konsep anak panah melesat dari busurnya. Tapi ketika diberikan rumus F = M x A (Gaya adalah Massa di kali Percepatan) mereka langsung bingung.

Ketua Institut Ibu Profesional Bandung pertama ini juga bercerita mengenai pengalamannya mengajar matematika ke anak-anaknya. Bisa dengan menggunakan lego untuk mengajarkan pecahan. Atau memberikan resep kue untuk praktekkan. “Ini ada resep kue, sekarang kita mau buat 1/3 resep. Coba disiapkan bahan-bahannya.” Tanpa sadar, si anak sudah belajar mengenai pecahan.

Atau untuk anak-anak yang suka kuliner, bisa diajak mengatur keuangan. Berapa uang jajan yang dipakai, berapa pengeluaran, berapa sisa uang, dan lain-lain. Anak menjadi belajar matematika dengan perut kenyang dan hati senang.

Teh Insania juga menambahkan dengan menceritakan pengalaman anaknya yang sempat trauma matematika. Salah satu hobinya adalah percobaan science. Dalam percobaan itu biasanya ada takaran ukuran yang harus dihitung. Otomatis anak jadi belajar berhitung. Kini si anak sudah berhasil mengatasi masalahnya dengan matematika dan memiliki prestasi di bidang itu. Anaknya sendiri akhirnya bangga dengan kemampuan yang kini tidak takut lagi pada matematika.

Salah satu cara unik dalam mengajarkan membaca adalah dengan menyanyikan lagu balonku dengan menggunakan vokal tertentu.
“Balanka ada lama, rapa-rapa warnanya, ....” kemudian diganti dengan i, u, e, o. Biasanya anak-anak senang dan mereka secara tidak langsung cepat untuk belajar membaca.

Mind map yang diperkenalkan Tony Buzan sebagai cara merekam informasi juga merupakan cara belajar yang efektif.

Cone of Learning

Edgar Dale, seorang pendidik dari Amerika melakukan sebuah penelitian mengenai kemampuan daya ingat seseorang setelah mempelajari sesuatu.

Diperlihatkan bahwa dalam 2 minggu, kita hanya mampu mengingat 10% dari apa yang kita baca. Jika kita mendengar, kemampuan daya ingat kita meningkat menjadi 20%. Melihat demo akan meningkatkan kemampuan daya ingat hingga 50%. Ini semua termasuk dalam cara belajar pasif.

Cara belajar aktif seperti berpartisipasi dalam diskusi, presentasi, dan simulasi nyata ternyata mampu meningkatkan daya ingat hingga 90%. Dari sinilah kemudian berkembang konsep ‘learning by doing’ atau ‘experential learning.’

Itu sebabnya mengapa orang kinestetik sering lebih unggul karena mereka terbiasa untuk melakukannya sendiri secara aktif. Berbeda dengan orang-orang yang hanya mengandalkan visual dan auditory yang cenderung pasif.

Kompetisi

Ada anak yang tidak suka berkompetisi. Bukan sekedar karena takut kalah, tapi karena mereka tidak merasa memiliki target apapun untuk dicapai. Mereka bukan tipe anak yang suka menarik perhatian. Bagaimana menyikapinya?

Buatkan target atau ajak anak pasang target mereka sendiri. Bisa dengan mengumpulkan berapa banyak teman baru yang diajak kenalan dalam event tertentu. Beri anak target berbeda sehingga semua bisa jadi pemenang. Ini juga cocok untuk kakak adik yang biasa bersaing. Jadi kita bisa mengatasi masalah ‘kok kakak dapat, kok saya nggak.”

Anak kinestetik itu kalau tidak bisa bergerak atau tidak ada yang dikerjakan, mereka memilih tidur. Jadi jangan heran, kalau anak tipe ini tiap naik mobil atau potong rambut selalu tertidur. Fasilitasi keinginan mereka untuk selalu bergerak. Ada anak yang perlu cetak-cetek polpen atau permen karet ketika menyerap informasi. Tanpa itu mereka akan blank. Merajut bisa menjadi salah satu solusinya. Daripada diam, kan lumayan ada hasilnya.

Ajak anak untuk belajar menjelaskan kembali apa yang mereka pelajari. Teh Dita mewajibkan anak-anaknya untuk presentasi setidaknya 1 pelajaran setiap minggu.

Tidak ada jalan lain untuk mengatasi masalah belajar anak selain mendampingi dan mengamati. Mencoba dan mengulang-ulang terus dengan sabar. Akan tiba saatnya anak akan menemukan cara belajar yang paling sesuai dengan mereka.

Gaya belajar

Dengan mengenali dan memahami gaya belajar yang paling sesuai, kita dapat meningkatkan kualitas dan kecepatan belajar. Berikut 8 tipe gaya belajar:

  1.  Visual (suka menggunakan gambar dan diagram)
  2. Auditory/Musical (suka mendengarkan nada)
  3.  Verbal (suka menggunakan kata-kata dengan bicara dan menulis)
  4. Kinestetik (suka menggunakan tangan, badan dan sentuhan)
  5. Logical (suka belajar dengan logika, alasan, sistem dan urutan)
  6.  Social (harus belajar bersama orang lain dan kelompok)
  7. Solitary (suka belajar sendiri)
  8. Combination (kombinasi 2 atau lebih tipe belajar)

Kalau dipikir-pikir, proses menulis di blog ini juga merupakan cara saya belajar. Kalau tidak ditulis, bubar semua apa yang disampaikan. Menulis ini juga sepertinya cocok untuk orang dengan daya ingat terbatas. Jadi kalau lupa, tinggal baca lagi.

Ketika masa sekolah dasar dan menengah, saya punya hobi ganti buku tulis. Sering banget saya menyalin catatan di buku baru. Seingat saya dulu alasannya karena tidak suka buku tulis yang lecek. Jadi dalam satu tahun ajaran, saya ganti buku tulis bisa 4-6x. Waktunya habis untuk menyalin catatan ke buku baru. Bahkan di masa SMA saya punya buku tulis khusus yang merangkum seluruh materi. Kalau sekarang buku seperti itu bisa dibeli di toko buku dengan harga murah, dulu saya membuat sendiri buku seperti itu dengan tulisan tangan. Hasilnya ya lumayan lah. ITB aja mah tembus.

Nah masalah timbul ketika kuliah, menulis rasanya minim sekali karena habis waktu dengan tugas yang bertubi-tubi. Catatan bahkan tidak dilakukan karena mengandalkan fotokopi catatan teman yang lebih rapi. Jadi ketika modalitas belajar berganti, akibatnya memang fatal. IPK sekarat.

Pengalaman Teh Dita ternyata kebalikannya. Masa-masa sekolah yang menengah yang selalu dikelilingi teman-teman, membuatnya tidak optimal dalam belajar. Ketika kuliah, modalitas belajar berganti dengan tipe kelas besar dan lebih individual. Datang kuliah duduk di depan dan berhadapan langsung dengan dosen. Setelah itu langsung pulang dan mengulang pelajaran. Hasilnya sangat optimal. Kita tidak perlu tanya berapa IPK teh Dita masa kuliah ini. Diterima sebagai dosen tetap di Teknik Sipil Itenas bisa membuktikan efektivitas gaya belajar Teh Dita semasa kuliah.

Perbedaan gaya belajar kita dengan anak juga mempengaruhi tingkat kesabaran kita dalam menyampaikan informasi. Ini sangat mungkin yang menjadi penyebab permasalahan belajar di sekolah. Guru tipe belajarnya berbeda dengan tipe belajar anak. Orang tua berbeda tipe belajarnya dengan anak. Bahkan setiap anak dalam sebuah keluarga memiliki tipe belajar yang berbeda.

Jadi ingin menambahkan sedikit yang tidak sempat dibahas dalam diskusi kemarin. Diluar masalah gaya belajar, salah satu yang penting dalam proses belajar adalah pertanyaan Mengapa kita perlu mempelajari sesuatu? Apa manfaatnya bagi kita?

Tanpa tahu alasan kita perlu mempelajari sesuatu, otak biasanya susah sekali untuk menerima sebuah informasi. Berbeda jika kita tahu apa yang kita perlu ketahui. Misalnya sebelum saya menghadiri acara diskusi parenting ini, saya memang benar-benar ingin tahu mengenai gaya belajar.

Keinginan untuk mempelajari sesuatu ini yang perlu dibangkitkan pada anak-anak. Raka, anak saya yang berusia 8 tahun, hanya mau belajar yang dia mau tahu. Ketika ia ingin bisa melipat, dia akan asyik menghabiskan sebungkus kertas origami dan berusaha mati-matian menyelesaikan petunjuk dari buku. Ketika sempat putus asa karena tidak berhasil menyelesaikan suatu petunjuk, dia minta bantuan saya. Kalau menurut saya petunjuknya memang salah, dan memintanya coba yang lain saja. Tapi karena semangat belajar, dia terus berusaha memecahkan masalah itu. Akhirnya dia menemukan satu langkah yang memang terlewat dan merampungkan bentuk origami itu. Hal ini juga berlaku pada sejumlah pelajaran sekolah.


Pinter-pinternya orang tua untuk membangkitkan rasa ingin tahu anak. Berbahagialah punya anak yang selalu punya rasa ingin tahu yang tinggi. 

Jadi sebenarnya tidak ada istilah anak bodoh. Yang ada adalah anak yang belum menemukan gaya belajarnya. Anak pintar adalah anak yang sudah menemukan gaya belajar yang paling sesuai dengan mereka. 

Seperti kata teh Dita, kita cukup mendampingi dan mengamati. Semoga anak-anak kita menemukan gaya belajar mereka sendiri.
Foto yang ada Shinta-nya

Foto yang ada Shanty-nya

(2000-an kata saja)

Minggu, 06 Desember 2015

#9 Tips menulis resume acara ala Shanty

Saya ini pada dasarnya pemalas. Ketika hari ini ada seorang yang bertanya bagaimana caranya menulis resume acara seperti yang biasa saya tulis, saya langsung ke-GR-an yakin bahwa besok saya akan dapat pertanyaan yang sama. Daripada habis waktu menjawab pertanyaan yang sama, lebih baik saya tulis saja disini. Jadi kalau ada yang mau tanya-tanya tinggal kasih saja link ini. Hemat waktu dan energi.

Tips #1 Hanya mencatat bagian menarik

Hanya point-point menarik yang saya catat di notes kecil seharga 4000-an. Jadi bisa dipastikan kalau tulisan saya panjang,  itu karena memang banyak materi penting yang perlu dikenang dan dicatat dalam sejarah. Info-info klasik, standar dan basi tidak pernah saya ijinkan masuk ke catatan.

Tips #2 Foto slide

Saya selalu memfoto setiap slide materi yang ditayangkan untuk membantu mengingat alur materi. Apa yang ada di dalam slide tidak perlu dicatat lagi.

Tips #3 Laporan lisan

Setiap pulang acara saya suka menceritakan isi materi yang benar-benar menarik ke suami atau siapa saja yang mau dipaksa untuk mendengarkan. Biasanya proses ini membantu pemahaman terhadap materi. Terkadang sebelum materi ditulis, saya sudah menceritakannya pada 1-3 orang.

Tips #4 Googling

Saat menulis saya pasti terkoneksi dengan internet dimana banyak window terbuka untuk mencari informasi pendukung. Jadi catatan yang bolong-bolong bisa disempurnakan. Mbah Google memang benar-benar dukun sakti yang tahu banyak hal.
Jangan malas baca. Kita tidak akan bisa menulis bagus kalau malas baca. Setelah menulis panjang-panjang, biasanya ada saja orang yang bertanya hal-hal konyol yang sebenarnya sudah ditulis. Padahal tinggal baca saja dengan lebih teliti.
Pekerjaan yang cocok
untuk orang-orang ingin menurunkan berat badan

Tips #5 Konfirmasi ke narasumber

Jika memungkinkan,  saya selalu mengkonfirmasi materi ke narasumber atau panitia. Biasanya mereka akan memberikan masukan dan koreksi terhadap tulisan.

Tips #6 Materi pendukung akurat

Alhamdulillah sekarang mulai banyak teman yang bisa melengkapi materi dengan rekaman audio di Soundcloud dan visual di YouTube, yang kemudian di share di internet. Rekaman itu sangat membantu untuk mendapatkan detil materi yang terlewat dicatat karena bisa kita ulang-ulang.

Tips #7 Segera ditulis

Semakin fresh from the oven semakin enak nulisnya. Tulis sesegera mungkin selagi masih hangat dalam ingatan bagaimana ekspresi si pembicara, bagaimana suasana dalam ruang pertemuan, bagaimana perasaan saat mendengarkan materi. Dengan kapasitas memori emak-emak yang terbatas, semakin ditunda, bisa bubar semua apa yang ada di kepala. Jadi dari pada sia-sia, segeralah ditulis.
Saya belum lama ini sempat dapat wejangan dari seorang dosen di Malang yang sukses menulis puluhan buku, Paman Sanapiah Faisal. “Kalau mau nulis itu jangan ditunda lama-lama. Tulis dengan cepat. Catat yang utama apa yang ingin kamu sampaikan. Segera jabarkan dalam poin-poin penting. Dan segera ditulis dan jangan ditunda! Saya biasa menulis 1 buku dalam waktu 1-3 bulan saja.”
Dalam menulis resume acara, saya biasanya menghabiskan waktu sekitar 3-5 jam untuk tulisan sekitar 2000-an kata. Maklum pemula. Biasanya saya menulis dinihari sampai pagi saat tidak ada gangguan.
Nggak ngantuk? Tergantung materi yang mau ditulis. Kalau materinya bagus sekali, saya bisa nggak tidur memikirkannya. Jadi daripada cuma dipikir aja, ya mending ditulis. Setelah ditulis, beban isi kepala bisa lebih kosong dan bisa tidur lebih tenang. Kita memang harus pintar-pintar mengatur isi kepala yang kapasitasnya terbatas ini.
Tapi memang sih, kadang saya suka cape duluan kalau lihat isi kepala yang berantakan. Sama kaya rumah saya. Jadi bingung mau ngerjain yang mana dulu. Akhirnya hanya bengong dan ngelamun melihat keberantakan lahir dan batin.
Kalau sudah begitu susah juga. Mau tidur nggak bisa, mau beberes males, mau nulis apalagi. Nge-hang ceritanya. Akhirnya saya memilih Ctr-Alt-Del dengan cara yang paling saya suka saja. Menulis! Berusaha menutup mata dari tempat piring kotor yang menumpuk, setrikaan yang segunung, anak yang kelaparan disuruh buat telur sendiri dan minum susu, banyak pekerjaan yang ingin dikerjakan dikepala dimasukkan ke laci dulu. Berjuang mencari celah sempit untuk bisa menulis mengeluarkan apa yang ada di kepala. Baru setelah itu program kembali berjalan normal kembali. Idealnya sih memang upgrade hardware dan software. Tapi kan mahal. Loh kita ini lagi ngomong apa ya?

Tips #8 Miliki apps pendukung

Di hari smartphone hanya seharga sejutaan, optimalkan penggunaannya dengan menginstall apps yang mendukung untuk menulis. Di HP lungsuran tercinta, saya menginstall apps yang sangat memudahkan untuk menulis seperti ColorNote – untuk mencatat apa saja, Writer – untuk tahu jumlah kata yang sudah ditulis, Tesaurus bahasa indonesia, KBBI, dan Kamusku.

Salah satu settingan keren yang wajib diaktifkan di HP adalah Predictive text. Pastikan Predictive text dalam posisi aktif dan input languages-nya bahasa Indonesia. Settingan ini sangat membantu untuk bisa menulis dengan cepat. Cukup tulis 1 huruf, atau bahkan belum menulis apapun, HP kita sudah sok tahu menawarkan 3 pilihan kemungkinan kata.


Tips #9 Niatkan untuk berbagi

Tapi sejujurnya memang nggak tulus-tulus amat sih niatnya. Karena ada yang bilang, kalau kita berbagi ilmu, pemahaman kita akan bertambah. Selain itu memang sebenarnya ada rasa nggak mau rugi juga. Sayang kalau materi yang begitu bagus hanya berakhir di notes 4000-an. Mudah-mudahan kalau ditulis, bisa banyak orang yang ikut menyerap materi yang sama. Bukan tidak mungkin, beberapa tahun kemudian, materi-materi yang kita tulis ternyata sangat berguna untuk anak dan cucu kita.
Tulisan ini dibuat bukan untuk sok-sok-an berbagi tips menulis  seperti yang biasa dibagi oleh para penulis best seller. Da aku mah apa atuh lah dibanding Dewi Lestari, Tere Liye, Andrea Hirata, Ahmad Fuadi,  RadityaDika, Aditya Mulya, atau Agustinus Wibowo, yang karyanya diakui dunia. Tapi saya tetap merasa perlu menulis tips untuk merekam kemampuan hingga level ini. Level pengalaman menulis 9 artikel review acara sajah di blog yang pengunjungnya baru 6000-an. 9 artikel 9 tips. Kalau besok-besok saya jadi penulis terkenal, mungkin tipsnya sudah berubah. Dan saya akan selalu mengingat tips yang ini.
Menulis adalah sebuah suatu bentuk komunikasi yang sangat penting selain bicara dan gambar. Menurut Kak Andi Yudha Asfandiar si pencipta karakter Mio yang terkenal itu, penting untuk setiap orang memiliki kebiasaan mencatat. Catatlah agar tidak lupa. Al Quran itu adalah sebuah catatan.
Rajinlah mencatat apa saja. Mulai dari daftar utang ke tukang sayur, daftar orang yang bikin kita kesel atau senang hari ini, nakal atau lucunya anak-anak, perasaan kesal atau sayang ke pasangan, daftar barang yang ingin kita miliki, catatan makanan enak yang kita makan hari ini, film yang kita tonton, hingga hal-hal yang perlu kita syukuri dalam hidup. Untuk catatan yang kira-kira bermanfaat di masa depan bolehlah dibagi dalam blog agar tidak tercecer. Tidak usah berpikir muluk-muluk bahwa itu akan bermanfaat bagi sejuta umat, sekedar bermanfaat buat kita sendiri sebagai bahan pelajaran atau untuk dilihat anak cucu kita suatu hari nanti, itu sudah cukup.
Bagaimana? Cukup puas? Yang mau nanya-nanya boleh di kolom comment. Tapi pastikan baca dulu dengan teliti dan jangan buat saya kesal dengan bertanya hal yang sudah ada jawabannya diatas.

(1000 kata)

Sabtu, 05 Desember 2015

Oleh-oleh Framework Pendidikan Berbasis Fitrah Harry Santosa

Tidak terasa 1 tahun lebih sudah berlalu sejak pertemuan pertama saya dengan Pak Harry Santosa. Dalam sebuah Seminar Home Education pada 13 September 2014 di SD Darul Hikam, Pak Harry Santosa dan Ibu Septi Peni Wulandani membuka mata saya mengenai konsep Pendidikan berbasis Potensi dan Akhlak bersama Keluarga dan Komunitas. 

Jika diingat kembali, pertemuan itu bisa dibilang sangat bersejarah. Karena dari pertemuan itu saya mulai mengenal komunitas Institut Ibu Profesional, Homeschooler Bandung, dan ITBMotherhood. Ternyata banyak juga orang tua yang haus ilmu untuk mendidik putra-putri mereka di Bandung Raya ini.

Setahun lebih kemudian, tepatnya Minggu, 29 November 2015, Pak Harry Santosa kembali dengan mempersembahkan sebuah pemikiran yang telah dibukukan dengan rapi berjudul Fitrah based Education, sebuah Model Pendidikan Peradaban – Bagi Generasi Peradaban – Menuju Peran Peradaban, Mengembalikan pendidikan sejati selaras fitrah, misi hidup dan tujuan hidup. Singkat kata, itu adalah buku kategori ‘wajib baca’ bagi para orang tua Indonesia.

Dalam Kuliah Umum Melahirkan Generasi Emas Melalui Pendidikan Peradaban berbasis Fitrah di Aula Bapusibda, Pak Harry Santosa membagikan gratis e-book 67 halaman untuk memberikan kita gambaran lengkap mengenai isi buku tersebut.
Jika dalam materi pertama dari Bang Adriano Rusfi mengenai konsep Home Education, pada materi kedua ini Pak Harry Santoso memberikan Framework yang bisa segera kita aplikasikan untuk menghasilkan generasi yang aqilbaligh pada usia 15-17 tahun.
Pendiri Millenial Learning Center ini membuka diskusi dengan mengingatkan bahwa Home Education tidak identik dengan Home Schooling. Home Schooling itu adalah pilihan, sedangkan Home Education hukumnya wajib. Home Education bukan memindahkan sekolah ke rumah, tapi mendidik anak sesuai dengan fitrahnya. “Saya tidak mengajarkan apa-apa, hanya sekedar membangkitkan fitrahnya.”
Fitrah pendidikan hanya bisa dibagikan oleh orang-orang tidak saja tulus dan ikhlas, namun juga punya ikatan batin. 
Beberapa gambar ditayangkan memperlihatkan bagaimana anak-anak berseragam SD berakrobat melalui jembatan gantung menuju sekolah. Sementara dalam gambar yang lain, bagaimana suku terbelakang di Sumatera yang tidak bersekolah, mampu membangun sebuah jembatan untuk memudahkan hidup mereka. Disini kita jadi bertanya-tanya, sekolah itu membangun peradaban atau malah merusaknya. Sekolah tidak mendidik, tapi sekedar memberi pengajaran.
Bisakah sekolah menyelesaikan krisis yang terjadi pada masyarakat saat ini seperti krisis alam (sampah, ekploitasi alam, deforestasi, penambangan, pencemaran) dan krisis manusia (depresi, kompetisi, kemiskinan, pengangguran, bunuh diri)?
Bapak 7 anak ini kemudian bercerita mengenai pengalamannya bekerja di Tanjung Priuk selama 8 tahun pergi ke kantor saat anak belum bangun, dan pulang saat anak sudah tidur. Sebagai penganut setia Metode Glenn Doman, beliau sempat sangat bangga ketika anaknya sudah bisa baca pada usia 2 tahun.
“Namun apa yang terjadi? Saya lupa mendidik hatinya. Dia menjadi anak cerdas tapi dengan emosi yang tidak stabil. Walhasil sempat di cap sebagai anak paling nakal satu sekolah.”
Sebagai anak baru di sebuah TK, saat teman-temannya berjamaah menangis karena ditinggal para orang tua di dalam kelas, anak Pak Harry tidak menangis. Ia malah mendatangi kaca dan memecahkannya. Ketika ditanya alasannya, si anak menjawab santai kalau ia ingin membantu teman-temannya keluar dari kelas dan menemui orang tua mereka. Alhasil, sukseslah si anak ditolak untuk bersekolah dengan ucapan, “Anak Bapak memang cerdas, tapi emosinya jongkok. Bandel banget.” Orang tua mana yang tidak sakit hati dibegitukan.
Barulah setelah itu lulusan Universitas Indonesia kelahiran tahun 1969 ini menemukan sekolah alam untuk anaknya. Saat itu sekolah alam berbasis komunitas, dimana orang tua cukup banyak dilibatkan dalam proses pendidikan. Di sekolah itu energi anak dikuras habis untuk kegiatan outdoor yang mereka sukai. Sebuah sekolah yang sangat cocok untuk si anak.
Di sekolah alam ini Pak Harry banyak bertemu teman yang mencerahkan dan mulai menyadari kesalahannya dalam mendidik anak. Ternyata mendidik anak itu bukan dengan dijejal macam-macam ilmu ke kepalanya, tapi dibangkitkan fitrahnya. Mendidik anak itu bukan dengan outside in (dari luar ke dalam) tapi dengan inside out (dari dalam keluar). Dibangkitkan gairah belajarnya. 
Jika gairah belajarnya bangkit, ia akan belajar seumur hidup. Jika gairah keimanannya bangkit, ia akan beriman seumur hidupnya. 
Ketika gairah belajar tidak bangkit, akan tiba saatnya mereka berhenti belajar. Anak menjadi alergi mendengar istilah belajar. Sekolah menjadi tempat untuk sekedar menunggu bel istirahat dan pulang saja. Di Indonesia, anak-anak cenderung dididik pintar menjawab tapi tidak pandai bertanya. Sekarang ini anak-anak hanya belajar karena PR atau Ujian saja, bukan karena memang fitrahnya mereka butuh belajar.
Kita mengenal IPB atau Institut Pertanian Bogor lebih sering diplesetkan menjadi Institut Pleksibel Banget atau Institut Perbankan Bogor karena banyaknya lulusannya yang bekerja di bidang perbankan atau sales asuransi dan bukannya pertanian. Ada yang salah dengan sistem pendidikan kita.

Fitrah Manusia

Setiap bayi lahir membawa fitrahnya masing-masing. Tidak perlu banyak teori, ikuti saja fitrahnya. Ada Fitrah Keimanan, Fitrah Belajar, Fitrah Bakat, Fitrah perkembangan, Fitrah Gender, dan lain-lain.
Fitrah Keimanan meliputi spiritualitas, moralitas dan religiusitas. Setiap anak dilahirkan untuk mencintai Tuhannya yang selanjutnya akan membentuk karakternya (akhlakul karimah). Pada usia dibawah 7 tahun, fitrah ini sangat mudah dibangkitkan dengan imajinasi dan abstraksi tentang Allah, Rasul, kebaikan dan segala ciptaan-Nya.
Sebuah penelitian tahun 1975 dilakukan oleh Dr. Edward Tronick untuk membuktikan bahwa bayi membawa fitrah keimanan ini. Melalui Still Face Experiment diperlihatkan bahwa bayi dapat menunjukkan reaksi yang berbeda pada wajah baik dan wajah buruk dari orang tuanya. Tanpa diajarkan secara fitrah mereka bisa memberikan respon yang berbeda terhadap dua hal itu.
Dalam bukunya Just babies, the Origins of Good and Evil, psikolog Paul Bloom juga membuktikan bagaimana bayi – bahkan yang usianya sekitar 3 bulan, bisa lebih memilih boneka yang baik daripada boneka yang nakal setelah diperlihatkan sebuah drama pendek.
Fitrah belajar adalah keinginan untuk mempelajari sesuatu secara alami, tidak perlu diajarkan secara khusus.
Dalam bukunya Origins, Annie Murphy Paul membuktikan bahwa bayi selama 9 bulan dalam kandungan telah mampu menyerap apa yang terjadi diluar tubuh ibunya.
Dalam sebuah penelitian tahun 1999 di kawasan kumuh di India, dilakukan eksperimen dengan meletakkan sebuah komputer di tempat umum yang memungkinkan di sentuh anak-anak. Walau tanpa diajarkan, ternyata anak-anak itu mampu mengoperasikan komputer. Bahkan jika komputer itu menggunakan bahasa asing.
Fitrah Bakat meliputi Talent, Passion & Strength. Setiap anak adalah unik dan memiliki sifat bawaan masing-masing yang kemudian akan berkembang menjadi karakternya. Dengan karakternya, akan berkembang bakat yang akan menjadi misi hidup yang spesifik untuk bisa berperan dalam peradaban.
Masa-masa keemasan untuk mengembangkan fitrah bakat ini adalah usia 10-14 tahun.

Framework Operasional Pendidikan Berbasis Fitrah & Akhlaq

Masa Pralatih usia 0-7 tahun
Penekanan pada permainan imajinasi, banyak menstimulasi sensorik dan motorik anak. Hingga usia 7 tahun anak belum memiliki tanggungjawab moral. Peran orang tua cukup sebagai fasilitator yang mengawasi dan mendokumentasikan anaknya bermain bebas dan spontan. Jadi jangan pusing dan terpenjara dengan jadwal kaku hari ini harus main apa, besok main apa.
Fitrah keimanan: Membangkitkan kesadaran Allah sebagai Robb dengan keteladanan, kisah inspiratif dan kepahlawanan, membangkitkan imaji positif terhadap Diri, Allah, Ibadah, Agama.
Fitrah Belajar: Membangkitkan logika dasar dan nalar melalui bahasa ibu sehingga sempurna ekspresinya, belajar bersama alam, belajar bersama kehidupan, imaji positif tentang alam, kehidupan dan belajar, belajar dari mencoba.
Fitrah Bakat: Membangkitkan kesadaran bakat melalui aktifitas dan wawasan, dan mendokumentasikan aktifitas anak.
Masa Pra Aqilbaligh I usia 7-10 tahun
Penekanan pada belajar tentang sistem simbol, aturan dan kebiasaan yang berlaku di masyarakat. Orang tua mengambil peran sebagai pembimbing sehingga anak dapat aktif belajar dari bereksplorasi.
Fitrah Keimanan: Membangkitkan kesadaran Allah sebagai Malik dengan keteladanan, mengenal nilai dan mengenal perintah dan larangan seperti sholat.
Fitrah Belajar: Membangkitkan gairah belajar dengan bahasa ibu hingga sempurna maknanya, belajar dari alam dan masyarakat, belajar bersama kehidupan, mendapatkan ide dari riset dan nalar, mulai melakukan proyek-proyek untuk mempelajari sesuatu.
Fitrah Bakat: Membangkitkan kesadaran bakat melalui beragam aktifitas dan gagasan dengan mengenal diri/pemetaan bakat, perencanaan portfolio, tour the talent (mengenalkan beragam profesi), dan mendokumentasi kegiatan.
Masa Pra Aqilbalig II usia 10-14 tahun
Penekanan pada pendidikan afektif, Emotional Intelligent, bekerja dalam grup kecil. Orang tua mengambil peran sebagai pelatih dan mentor, sedangkan anak sebagai pemagang.
Berdasarkan pengalaman beliau sebagai konsultan sepakbola Pertamina (Pertamina Soccer School 2011-2012) menurut peraturan FIFA anak-anak usia dibawah 10 tahun belum boleh diajar teknis.
Fitrah Keimanan: Membangkitkan kesadaran Allah sebagai Illah dengan keteladanan, konsisten dan ridho pada setiap perintah dan larangan, pendamping akhlak.
Fitrah Belajar: Mewujudkan kompetensi belajar dan inovator, mempelajari bahasa ibu ke-2, menguasai sastra bahasa ibu, belajar untuk alam dan masyarakat, mengembangkan riset dan nalar, melakukan proyek-proyek untuk mempelajari sesuatu.
Fitrah Bakat: Mewujudkan gagasan dan kompetensi melalui bakat dengan cara magang kepada para ahli dan membuka jaringan.
Masa Post Aqilbalig usia >14 tahun
Penekanan pada persiapan karir dan perkembangannya. Anak mulai siap untuk mengambil peran orang dewasa dan bertanggungjawab untuk dirinya sendiri. Hubungan anak dan orang tua adalah partner.
Fitrah Keimanan: Pribadi berakhlak mulia, tunduk dan taat
Fitrah Belajar: Pribadi yang inovatif
Fitrah Bakat: Pribadi yang berkarya atas bakat (talentpreneur/imama)
Cara terbaik untuk belajar adalah dengan magang. Cara magang restoran padang. Tahap paling bawah dengan cuci piring. Selanjutnya boleh membawa minuman untuk pelanggan. Kemudian membawa makanan ke rak. Tingkat empat mulai bisa membawa makanan dengan piring yang tersusun ke pelanggan. Baru terakhir belajar memasak.

Buku Orang tua

Setiap orang tua seyogyanya memiliki buku orang tua yang merekam perjalanan proses pendidikan anaknya. Satu anak satu kurikulum. Jangan seperti Diknas yang menyeragamkan 1 kurikulum untuk 56 juta anak. Panduan singkat pembuat buku orang tua dapat dilihat di e-book Harry Santosa yang dapat di download di Facebook Group Institut Ibu Profesional Bandung.
Buku aslinya setebal 400 halaman terdiri dari 5 Bab Pokok:
  1. Landscape Peradaban: Peran Pendidikan dalam Lansekap Peradaban 
  2. Krisis Peradaban dan Krisis Pendidikan 
  3. Kembali Kepada Fitrah: Konsep dan Klasifikasi Fitrah, Esensi Fitrah dalam Pendidikan 
  4. Pendidikan berbasis Fitrah: Implementasi Framework Pendidikan berbasis fitrah untuk usia 0 - 7, usia 7 - 10, usia 10 - 14 dan usia AqilBaligh 
  5. Perancangan BukuOrtu: Portfolio Anak dan Personalized Curriculum untuk setiap anak.
Sesi kedua ditutup dengan sharing dari sejumlah praktisi Home Education

***
Terima kasih untuk Nining yang telah berbaik hati merekam audio materi ini di: